Google
 
Tampilkan postingan dengan label Inovasi teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi teknologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2008

Pabrik Karet di Pematang Panggang

Lonsum Dirikan Pabrik Karet

KAYUAGUNG, SRIPO - Kehadiran pabrik karet Cengal Rubber Factory, PT PP London Sumatera Indonesia Tbk yang diresmikan oleh Bupati OKI, Ir H Ishak Mekki, MM, Sabtu (9/8) merupakan kabar baik bagi warga setempat. Dengan demikian, peluang bekerja di pabrik karet ini sangat terbuka bagi warga Kecamatan Cengal, Kecamatan Sungai Menang dan sekitarnya.
Ketua panitia, HM Ali Simatupang menjelaskan, pabrik yang baru diresmikan itu dibangun sejak 3 September 2007 lalu, dan sekarang tinggal finishing, sudah dapat dioperasikan. “Pembangunan pabrik merupakan investasi mahal, sekaligus membuka peluang pekerjaan bagi warga setempat,” katanya.
Sedangkan luas perkebunan karet sekitar 10.000 Ha terdiri dari kebun karet inti dari keseluruh HGU 14.500 Ha, dan seluas 3.500 hektare plasma. Di atas luas perkebunan sekarang ini sedang dibangun rumah karyawan, rumah ibadah, dan sarana olahraga.
“Pelaksanaan ini semua atas komitmen PP Lonsum untuk ambil bagian dalam memajukan Kabupaten OKI. Lonsum mendukung program Pemkab OKI untuk kemajuan bersama,” kata Ali seraya mengharapkan kerjasama yang baik dan dukungan masyarakat.
Pabrik yang baru diresmikan tersebut memilik kapasitas High Grade 2 ton per jam, Low Grade 2 ton per jam, Sheet Rubber 13 ton per hari. Dibangun di atas lahan seluas 10 hektare. Pabrik ini mampu mengolah dua jenis produk yakni, pabrik crumb rubber dan sheet rubber. Saat ini telah mempekerjakan 122 karyawan dan besar kemungkinan pabrik ini akan lebih banyak lagi membutuhkan pekerja.
Direktur Manajemen Operasional dan Presdir, Mr Bryan J Dyer menyatakan, terimakasih banyak atas kehadiran Bupati OKI Ir H Ishak Mekki, MM ke perkebunan karet yang mereka kelola. (std)

Senin, 12 Mei 2008

Hibah Software Microsoft Untuk Sekolah di Indonesia

Syarat Bill Gates untuk Indonesia

BILL GATES berencana menghibahkan software Microsoft ke sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dengan syarat setiap sekolah harus memiliki laboratorium komputer lengkap dengan komputer murahnya.

Menyanggupi hal ini, pemerintah akan mengupayakan bentuk kerja sama dengan vendor komputer untuk menyediakan komputer murah pada kisaran harga USD200. “Microsoft hanya menyumbangkan software-nya, sedangkan komputer murah, pemerintah akan bekerja sama dengan perusahaan hardware. Itu yang masih dipikirkan sehingga harus menunggu,” ujar Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.

Menurut Bambang, banyak sekolah yang harus dilengkapi laboratorium. Bahkan, satu unit laboratorium di satu sekolah membutuhkan sekitar 20 hingga 40 unit komputer. Saat ini dari 800 unit SMK baru 70% yang memiliki laboratorium komputer. Adapun dari 700 SMA, baru 40% yang memiliki lab. Begitu pula dengan 30.000 SMP di Indonesia, hanya 30% yang memiliki laboratorium. “Banyak sekali yang harus dilengkapi,” tandas Bambang.

Rencana hibah software untuk sekolah ini kemungkinan akan berlangsung pada tahun 2009 seiring kelengkapan laboratorium komputer di setiap sekolah di Indonesia. “Tentunya software baru yang akan diperbantukan, bukan software usang. Nantinya tergantung Indonesia yang menyediakan komputernya.

sumber : seputar Indonesia

Kamis, 10 April 2008

Inovasi BBM kompor spritus

Sultan Tertarik Kompor Spiritus Temuan Rochmat
Penggunaan spiritus sebagai bahan bakar kompor untuk memasak, diharapkan bisa mengurangi antrean seperti dalam gambar ini.
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan membantu pengembangan kompor berbahan bakar spiritus yang dibuat Rohmat (33) warga Wonokerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.


Hal tersebut dikatakan Subandriyo Direktur PT Madu Baru - Madukismo, perusahaan yang memproduksi gula pasir, alkohol dan spiritus seusai mendampingi Rohmat mempresentasikan keberhasilannya membuat kompor spiritus, sekaligus ’memamerkan’ cara penggunaannya di halaman kantor gubernur DIY, Kepatihan Yogyakarta, Kamis.

Rohmat mengatakan kompor spiritus memiliki beberapa kelebihan dibanding kompor minyak tanah. Kelebihan tersebut di antaranya kompor spiritus lebih hemat biaya bahan bakarnya, karena harga spiritus lebih murah dibanding harga minyak tanah non subsidi. Harga spiritus saat ini antara Rp 5.600 sampai Rp 6.000 per liter, sedangkan minyak tanah non subsidi harganya Rp 9.000 sampai Rp9.500 per liter.

"Kompor spiritus tidak berjelaga, dan aman karena tidak mudah meledak," katanya.

Menurut dia, kelebihan lainnya adalah bisa ditambahkan air hingga 30 persen selain menggunakan spiritus sebagai bahan bakar kompor ini.

Ia mengatakan, dirinya mulai merintis membuat kompor dengan bahan bakar spiritus sejak tiga bulan lalu. Biayanya sekitar Rp 95.000 per unit kompor.

"Kami sedang mengurus permohonan untuk memperoleh hak paten atas kompor spiritus yang kami buat ini," katanya.

Kata Rohmat, apabila kompor spiritus sudah diproduksi secara massal, harganya di pasaran kemungkinan sekitar Rp200 ribu per unit.

Ia menyebutkan satu liter spiritus bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor ini selama tujuh jam terus-menerus. Sedangkan satu liter minyak tanah bisa digunakan untuk bahan bakar kompor selama 10 jam.

Mengenai komponen yang digunakan untuk membuat kompor spiritus, ia tidak mau menjelaskan dengan alasan rahasia perusahaan.

Kata dia, sudah ada sebuah perusahaan di Jakarta yang mengajak kerjasama untuk pembuatan kompor spiritus secara massal. "Untuk tahap awal rencananya akan diproduksi 10 ribu unit kompor," katanya.

Menurut Subandriyo, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan pemprov akan membantu pengembangan kompor ini sehingga masyarakat bisa menggunakannya untuk keperluan memasak.

Mengutip pernyataan Sultan, penggunaan kompor berbahan bakar spiritus tersebut sebagai alternatif untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat akibat tingginya harga minyak tanah saat ini.

"Kata Sultan apalagi jika dikaitkan dengan konversi minyak tanah ke gas, dimana masyarakat tidak mungkin membeli gas secara eceran, maka dengan adanya kompor spiritus sangat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat karena bahan bakar spiritus bisa dibeli secara eceran," katanya.

Ia menyebutkan harga gas satu tabung isi tiga kilogram Rp12.500, dan ini tidak mungkin bisa dibeli secara eceran. "Tetapi kalau menggunakan kompor spiritus, warga masyarakat bisa membeli spiritus secara eceran tergantung uang yang dimiliki," katanya.

Sementara itu, Subandriyo menyatakan pihaknya siap membantu dalam pengadaan spiritus untuk bahan bakar kompor tersebut. Untuk itu, perusahaannya yang berkedudukan di Bantul, DIY ini akan meningkatkan produksi spiritusnya dari 27 ribu liter menjadi 50 ribu liter per hari.

Guna mendukung peningkatan produksi spiritus, pihaknya akan memperluas areal tanaman tebu di DIY. Ia menyebutkan saat ini areal tanaman tebu di seluruh wilayah DIY sekitar 6.000 haktare, dan akan ditambah 2.000 hektare sehingga nantinya menjadi 8.000 hektare. "Areal tambahan tersebut berada di Kabupaten Gunungkidul, Kulonprogo dan Kabupaten Sleman," katanya.


sumber : kompas.com (ANT)

Selasa, 08 April 2008

Konversi Sampah ke Energi Listrik Ditemukan

Mimpi mengubah sampah dan limbah menjadi aliran listrik kian mendekati kenyataan, terlebih ketika para peneliti dari Universitas Minnesota Amerika Serikat menemukan kunci konversi sampah ke listrik.

Baru-baru ini hasil penelitian tim Universitas Minnesota mendapati bahwa organisme bakteri yang mampu menghasilkan listrik bisa ditingkatkan produksi energinya dengan pasokan riboflavin - yang lazimnya dikenal dengan vitamin B-2.

Bakteri penghasil listrik itu bernama Shewanella, seringnya didapati di air dan tanah.

“Bakteri ini bisa mengubah asam susu (lactic acid) menjadi listrik,” kata Daniel Bond dan Jeffrey Gralnick dari Jurusan Mikrobiologi Institut Bio-Teknologi Universitas Minnesota yang memimpin penelitian.

"Ini sangat membahagiakan buat kami, karena menuntaskan teka-teki biologi yang sangat fundamental," kata Bond.

Ia menjelaskan, "Para pakar selama sudah bertahun-tahun mengetahui bahwa Shewanella bisa menghasilkan listrik. Dan sekarang kami tahu bagaimana bakteri ini melakukannya."

Penemuan ini juga berarti bakteri Shewanella bisa memproduksi energi lebih banyak lagi bisa riboflavin ditingkatkan jumlahnya. Selain itu penelitian tim Universitas Minnesota ini juga membuka peluang bagi berbagai inovasi di bidang energi terbarukan dan pembersihan lingkungan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 3 Maret 2008.

Tim penelitian yang lintas-disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa bakteri tumbuh di elektroda yang secara alamiah menghasilkan riboflavin.

Karena riboflavin sanggup membawa elektron dari sel-sel hidup ke elektroda, maka angka produksi listrik pun bisa ditingkatkan menjadi 370 persen saat riboflavin ditambah jumlahnya.

Penambahan bahan bakar mikroba ini menggunakan bakteri serupa yang bisa menghasilkan listrik untuk membersihkan limbah air.

"Bakteri bisa membantu kita menurunkan biaya pabrik pengelolaan limbah air," kata Bond.

Tapi untuk aplikasi yang lebih ambisius seperti listrik untuk transportasi rumah atau bisnis, masih kata Bond, dibutuhkan temuan ilmu biologi yang lebih mutahir dan pasokan bahan bakar sel yang lebih murah.

Lalu timbul pertanyaan, "Bagaimana bakteri ini bisa menghasilkan listrik?"

Secara alamiah, bakteri seperti Shewanella butuh mendapatkan dan melarutkan benda-benda logam seperti besi. Dengan kemampuan mengarahkan secara langsung elektron ke logam, membuat bakteri ini bisa mengubah kadar kimia dan tingkat ketersediaannya.

"Bakteri sudah sejak miliar tahun lalu mengubah kadar kimia di lingkungan hidup kita," kata Gralnick.

"Kemampuan mereka membuat besi menjadi zat yang terlarutkan adalah kunci dari proses siklus logam di lingkungan dan memainkan peran yang sangat penting buat kehidupan di Bumi," tambahnya.

Proses ini bisa berlaku terbalik untuk menghindari logam terkena kerosi, teruma buat logam-logam di kapal laut.


sumber : media Indonesia

Rabu, 19 Maret 2008

Ditemukan Konversi Sampah ke Energi Listrik

Mengubah sampah dan limbah menjadi aliran listrik kian mendekati kenyataan, terlebih ketika para peneliti dari Universitas Minnesota Amerika Serikat menemukan kunci konversi sampah ke listrik.

Baru-baru ini hasil penelitian tim Universitas Minnesota mendapati bahwa organisme bakteri yang mampu menghasilkan listrik bisa ditingkatkan produksi energinya dengan pasokan riboflavin - yang lazimnya dikenal dengan vitamin B-2.

Bakteri penghasil listrik itu bernama Shewanella, seringnya didapati di air dan tanah.

“Bakteri ini bisa mengubah asam susu (lactic acid) menjadi listrik,” kata Daniel Bond dan Jeffrey Gralnick dari Jurusan Mikrobiologi Institut Bio-Teknologi Universitas Minnesota yang memimpin penelitian.

"Ini sangat membahagiakan buat kami, karena menuntaskan teka-teki biologi yang sangat fundamental," kata Bond.

Ia menjelaskan, "Para pakar selama sudah bertahun-tahun mengetahui bahwa Shewanella bisa menghasilkan listrik. Dan sekarang kami tahu bagaimana bakteri ini melakukannya."

Penemuan ini juga berarti bakteri Shewanella bisa memproduksi energi lebih banyak lagi bisa riboflavin ditingkatkan jumlahnya. Selain itu penelitian tim Universitas Minnesota ini juga membuka peluang bagi berbagai inovasi di bidang energi terbarukan dan pembersihan lingkungan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 3 Maret 2008.

Tim penelitian yang lintas-disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa bakteri tumbuh di elektroda yang secara alamiah menghasilkan riboflavin.

Karena riboflavin sanggup membawa elektron dari sel-sel hidup ke elektroda, maka angka produksi listrik pun bisa ditingkatkan menjadi 370 persen saat riboflavin ditambah jumlahnya.

Penambahan bahan bakar mikroba ini menggunakan bakteri serupa yang bisa menghasilkan listrik untuk membersihkan limbah air.

"Bakteri bisa membantu kita menurunkan biaya pabrik pengelolaan limbah air," kata Bond.

Tapi untuk aplikasi yang lebih ambisius seperti listrik untuk transportasi rumah atau bisnis, masih kata Bond, dibutuhkan temuan ilmu biologi yang lebih mutahir dan pasokan bahan bakar sel yang lebih murah.

Lalu timbul pertanyaan, "Bagaimana bakteri ini bisa menghasilkan listrik?"

Secara alamiah, bakteri seperti Shewanella butuh mendapatkan dan melarutkan benda-benda logam seperti besi. Dengan kemampuan mengarahkan secara langsung elektron ke logam, membuat bakteri ini bisa mengubah kadar kimia dan tingkat ketersediaannya.

"Bakteri sudah sejak miliar tahun lalu mengubah kadar kimia di lingkungan hidup kita," kata Gralnick.

"Kemampuan mereka membuat besi menjadi zat yang terlarutkan adalah kunci dari proses siklus logam di lingkungan dan memainkan peran yang sangat penting buat kehidupan di Bumi," tambahnya.

Proses ini bisa berlaku terbalik untuk menghindari logam terkena kerosi, teruma buat logam-logam di kapal laut.


sumber : media Indonesia

Jumat, 14 Maret 2008

Inovasi Semen dari Sampah



Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe yang dibuat diatas lapisan sampah, lalu menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di jepang, kini jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.

Ekosemen

Diawali penelitian di tahun 1992, dengan dibiayai oleh Development Bank of Japan, para peneliti Jepang telah meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah, endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1998, setelah melalui proses uji kelayakan akhirnya pabrik pertama didunia yang mengubah sampah menjadi semen didirikan di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen 110.000 ton per tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62.000 ton per tahun, endapan air kotor dan residu pembakaran yang diolah mencapai 28.000 ton per tahun. Hingga saat ini sudah dua pabrik di Jepang yang memproduksi ekosemen.


Gambar 1. Simulasi pembuatan eko semen dari limbah rumah tangga

Pembuatan ekosemen

Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton per tahun tersebut yang dibakar menjadi abu sekitar 37 ton per tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa dalam pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu ini bisa berfungsi sebagai pengganti clay yang digunakan pada pembuatan semen biasa.

Namun CaO yang terkandung pada abu hasil pembakaran sampah dinilai masih belum mencukupi, sehingga limestone (batu kapur) sebagai sumber CaO masih dibutuhkan sekitar 52 persen dari keseluruhan. Sedangkan pada semen biasa, limestone yg dibutuhkan mencapai 78 persen dari keseluruhan.

Proses selanjutnya adalah abu hasil pembakaran sampah (39 persen), limestone (52 persen), endapan air kotor (8 persen) dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam rotary klin untuk kemudian dibakar. Untuk mencegah terbentuknya dioksin, pada proses pembakaran di rotary klin, dilakukan pada 1400 derajat celcius lebih dimana pada suhu tersebut dioksin terurai secara aman.


Gambar 2. Rotary klin (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Kemudian gas hasil pembakaran pada rotary klin didinginkan secara cepat untuk mencegah proses pembentukan dioksin ulang. Sehingga hasil gas buangan tidaklah berbahaya bagi manusia. Sedangkan pada hasil pembakaran yang masih mengandung senyawa logam dipisahkan, untuk kemudian dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain.
Hasil akhir dari proses ini adalah ekosemen.

Pengaruh plastik vinil

Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses pembakaran akan mengakibat kekuatan konkrit ekosemen akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas Cl2 hasil peruraian plastik vinil yang dapat mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.

Kualitas ekosemen

Berdasarkan hasil pengujian JSA (Japan Standar Association) dinyatakan bahwa ekosemen mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan semen biasa. Sehingga, hingga saat ini penggunaan ekosemen sudah digunakan dalam pembangunan jembatan, jalan, rumah, dan bangunan lainnya di Jepang.


Gambar 3. Struktur ekosemen (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah alternatif pengolahan sampah menjadi barang bermanfaat bagi manusia yang telah membuangnya. Selain itu dengan adanya alternatif pengolahan sampah menjadi semen, biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Bila sebelumnya 40.000 yen per ton (pengolahan sampah konvensional) menjadi 39.000 yen per ton (pengolahan sampah hingga menjadi semen).

Peluang di Indonesia

Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan, tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.

Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya perkembangannya masih jalan ditempat.

Berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen, tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan oleh warganya mencapai 6000 ton lebih per hari. Selain itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak pemerintah penanganan sampah bisa sedikit teratasi dan dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan limestone (26 persen).

Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak industri bisa lebih ekonomis.

Dedy Eka Priyanto, Tokyo National College of Technology. Email: dedy_monbusho05@yahoo.co.jp

Jumat, 07 Maret 2008

PALM BIODIESEL


Bahan Bakar Ramah Lingkungan

 Fluktuasi harga minyak bumi dunia yang tidak menentu dan cenderung mengalami peningkatan yang signifikan. Kondisi ini dipertajam dengan keterbatasan sumber bahan baku minyak bumi, sehingga Indonesia mengalami perubahan status dari exportir menjadi importir minyak bumi lebih cepat dari estimasi sebelumnya. Pada pertengahan 2005, harga minyak bumi dunia mencapai USD 60 per barel. Keadaan ini memacu Indonesia untuk menggali dan memanfaatkan potensi sumber energi alternatif, khususnya yang terbarukan.

Menurut hasil pengkajian di PPKS, bahan bakar diesel juga dapat disintesis dari ester asam lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) sebagai produk yang ramah lingkungan, mudah terdegradasi dan terbarukan menjadi produk yang mendapat prioritas untuk dikaji lebih dalam. Umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan rantai karbon antara C6 - C22, seperti yang terkandung dalam minyak sawit dengan rantai karbon C14 - C20. Ini merupakan peluang yang strategis untuk dikembangkan sebagai strategic business unit (SBU) di PKS. Potensi ini cukup prospektif, karena industri kelapa sawit berkembang sangat cepat, dengan luas areal mencapai lebih dari 5,2 juta hektar (2005) dengan produksi mencapai + 15 juta ton dan diproyeksikan akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang.

 Palm biodiesel PPKS adalah merupakan suatu paket teknologi dan produk bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak. Bahan bakar ini bersifat terbarukan (renewable) dan ramah lingkungan (biodegradable). Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, palm biodiesel dapat diproduksi dari berbagai sumber bahan baku berbasis minyak sawit, diantaranya crude palm oil (CPO), refine bleached deodorized palm oil (RBDPO), olein, stearin, dan palm fatty acid distillated (PFAD). Palm biodiesel yang siap untuk diaplikasikan secara komersial, yaitu palm biodiesel dari CPO dan RBDPO. Bahan bakar ini dibuat melalui proses transesterifikasi minyak sawit dengan alkohol menggunakan katalis tertentu (Diagram 1).

Palm biodiesel PPKS telah memenuhi standar ASTM PS 121 dan sesuai dengan bahan bakar diesel dari minyak bumi (petrodiesel). Pabrik palm biodiesel PPKS memiliki kapasitas 1 ton per hari dan akan dikembangkan menjadi 1 ton per jam melalui modifikasi proses dan formulasi bahan baku. Spesifikasi palm biodiesel yang dihasilkan tersaji pada Tabel berikut :

Spesipikasi palm biodiesel

Parameter

Palm Biodiesel Petrodiesel ASTM PS 121
Viskositas pada 40oC (cSt) 5.0-5.6 4.6 1.6-6.0
Flash point (oC) 172 176 > 100
Cetane Index 47-49 > 40 > 40
Conradson carbon residue 0.03-0.04 0.10 <>
Densitas (g/cm3) 0.8624 0.852 -

  Upaya sosialisasi palm biodiesel ini juga telah dilakukan melalui road test Jakarta -Medan menempuh jarak 2300 km dengan kendaraan berbahan bakar diesel, yaitu Toyota Kijang Inova 2500 cc dengan sistem pembakaran comman rail. Konsumsi bahan bakar dan kinerja mesin dikaji melalui analisa injection pump, injector dan emisi. Hasil road test menunjukan palm biodiesel memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan bahan bakar solar, yaitu mengurangi emisi asap, CO, SO2, dan partikulat, memperbaiki sifat pelumasan ruang bakar, mengurangi korosi mesin dan memperpanjang umur pakai mesin.



sumber : PPKS-IOPRI

Jumat, 15 Februari 2008

Bahan Bakar Nabati

Bahan bakar nabati (BBN) adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati. Oleh karena itu, BBN dapat berupa biodiesel, bioetanol, bio-oil (minyak nabati murni). Biodiesel merupakan bentuk ester dari minyak nabati setelah adanya perubahan suifat kimia karena proses transesterifikasi yang memerlukan tambahan metanol. Bioetanol merupakan anhydrous alkohol yang berasal dari fermentasi jagung, sorgum, sagu atau nira tebu (tetes) dan sejenisnya. Bio-oil merupakan minyak nabati murni atau dapat disebut minyak murni, tanpa adanya perubahan kimia, dan dapat disebut juga ”pure plant oil” atau ”straight plant oil”, baik yang belum maupun sudah dimurnikan atau disaring. Bio-oil dapat disebut juga minyak murni. Oleh karena itu, bahan bakar nabati adalah semua bentuk minyak nabati, yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar, baik dalam bentuk esternya (biodiesel) atau anhydrous alkoholnya (bioetanol) maupun minyak nabati murninya (Pure Plant Oil atau PPO). Dengan beberapa persyaratan tertentu, biodiesel dapat menggantikan solar, bioetanol dapat menggantikan premium, sedangkan bio-oil dapat menggantikan minyak tanah.

Ketersediaan energi fosil yang semakin langka juga menyebabkan prioritas mengarah kepada penggunaan energi asal tanaman atau bahan bakar nabati. Cukup banyak tanaman perkebunan penghasill minyak lemak nabati di Indonesia (Tabel 1). Bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari tanaman penghasil lemak, misalnya kelapa, kelapa sawit, jarak pagar, bunga matahari dan lainnya. Yang dapat dimanfaatkan dari minyak hasil tanaman-tanaman tersebut dapat berupa minyak asli atau minyak kasarnya (crude oil), atau dapat juga berupa biodiesel, yaitu minyak kasar tersebut yang sudah melalui proses transesterifikasi menggunakan metanol. Minyak kasar murni umumnya dapat digunakan untuk pengganti minyak tanah dan sejenisnya, melalui peralatan atau kompor khusus, sedangkan biodiesel digunakan sebagai bahan bakar langsung maupun campuran untuk otomotif.

Pembeda dalam memilih tanaman penghasil BBN antara lain nilai-nilai bakar hasil minyaknya, yang parameternya dapat berupa : titik bakar, kekentalan, nilai kalori dan lainnya .

Tabel 1. Sifat fisik beberapa minyak nabati dan minyak fosil

Jenis Minyak Titik Bakar (0C) Kekentalan (10 -6 m2/s) Angka Iodine Saponification Value Nilai Kalori (MJ/Kg)
Jarak Pagar 340 75,7 103,0 198,0 39,65
Kelapa 270-300 51,9 10,4 268,0 37,54
Kelapa Sawit 314 88,6 54,2 199,1 39,54
Rapeseed 317 97,7 98,6 174,7 40,56
Bunga Matahari 316 65,8 132,0 190,0 39,81
Minyak Tanah 50-55 2,2 - - 43,50
Minyak Solar 55 2-8 - - 45,00
Sumber : Lide dan Frederikse,1995 dalam Mühlbauer et al. (1998).


Tabel 2. Beberapa Jenis Tanaman Sumber Minyak-lemak Nabati
Indonesia Inggris Latin
Sawit Oil Palm Elaeis guineensis
Kelapa Coconut Cocos nucifera
Alpukat Avocado Persea americana
Kacang Brazil Brazil nut Bertholletia excelsa
Kacang Makadam Macadamia nut Macadamia ternif.
Jarak Pagar Physic nut Jatropha curcas
Jojoba Jojoba Simmondsia california
Kacang Pekan Pecan nut Carya pecan
Jarak Kaliki Castor Ricinus communis
Zaitun Olive Olea europea
Kanola Rapeseed Brassica napus
Opium Poppy Papaver somniferum

Sumber : Soerawidjaja (2006)

Kesimpulan

  • Bahan bakar nabati asal tanaman perkebunan tersedia cukup beragam, sehingga potensinya sangat besar untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak, khususnya minyak tanah untuk rumah tangga.
  • Proses produksi minyak nabati murni atau minyak murni lebih murah dibandingkan biodiesel sehingga akan sangat bermanfaat bagi daerah-daerah pedesaan dan masyarakat kelas bawah.
  • Khususnya bagi masyarakat di pedesaan, potensi minyak murni sebagai pengganti minyak tanah untuk rumah tangga cukup tinggi, walaupun untuk itu memerlukan peralatan atau kompor khusus atau kompor bertekanan.
  • Uji coba awal kompor bertekanan di Indonesia maupun di beberapa negara lain terbukti berhasil baik sehingga risetnya perlu segera dituntaskan dan diformulasikan, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
  • Fabrikasi kompor tersebut di daerah-daerah dengan menggunakan bahan lokal akan membuka kesempatan kerja serta kesempatan berusaha bagi masyarakat di daerah.
  • Tanaman kelapa dan jarak pagar sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati, potensinya lebih baik dibandingkan jenis tanaman perkebunan lainnya, terutama penggunaan minyak murninya sebagai pengganti minyak tanah dengan memanfaatkan kompor bertekanan yang sesuai.
Sumber : Puslitbang Perkebunan

Rekayasa komoditas Jeruk

Rekayasa Penanganan Segar Terpadu Komoditas Jeruk

ImageUpaya untuk meningkatkan daya saing komoditas jeruk perlu juga dipacu yang antara lain melalui penanganan secara terpadu buah jeruk terutama pada penanganan pasca panennya sehingga kualitas produk dapat dioptimalkan dan memperpanjang daya simpan produk yang berujung pada nilai tambah.

Rekayasa teknologi alsintan penanganan segar terpadu komoditas jeruk yang meliputi alsin pemetik, pengkelasan, pemroses sari buah jeruk segar, dan pengemasan diharapkan dapat menciptakan peluang industri pengolahan jeruk skala kecil di pedesaan sebagai langkah pengembangan agro-industri pedesaan yang akan meningkatkan kesejahteran petani.

Paket teknologi penanganan segar untuk komoditas jeruk, yaitu :

1. Prototipe alsin pemetik buah jeruk tipe teleskopik yang dapat dipanjangkan mencapai maksimal 5 m dan terpendek 2m yang dilengkapi dengan gunting pemotong tangkai buah, berat 1,5 kg sehingga cukup ringan dalam pengoperasian.

2. Prototipe alsin pengkelasan (grader) buah jeruk berdasarkan ukuran diameter berbasis sensor elektronik berkapasitas 296 kg/jam dengan keseragaman 92 % untuk varietas jeruk Siem Madu (Medan) dengan jumlah buah 6-7 butir/kg. Pengkelasan terdiri dari 4 kelompok yaitu kelas A: ≥ 70 mm; kelas B : 60 – <70>

3. Prototipe alsin Pemeras Buah Jeruk (Orange Squeezer) diuji menggunakan jenis jeruk kupas (Lokam) dan jeruk peras (Valensia dan Navel) berkapasitas input rata-rata 46 butir jeruk/menit dan output rata-rata berupa sari buah jeruk 181,46 ltr/jam dengan efisiensi pemerasan rata-rata 79,96 %.

4. Prototipe alsin penuang sari buah jeruk otomatis pada tahap awal telah direkayasa penuang otomatis ke dalam gelas kemasan dengan hanya menekan satu tombol (push button switch) pada setiap kemasan dan dengan volume sesuai yang dikehendaki dengan mengatur timer elektronik.

Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mendorong berkembangnya agribisnis di pedesaan sehingga disamping dapat meningkatkan pendapatan petani juga terciptanya lapangan kerja baru serta menambah pendapatan negara melalui ekspor produk buah-buahan ke manca negara.

ImageAlsin pemetik buah jeruk tipe teleskopik

Image Alsin Pemeras Buah Jeruk (Orange Squeezer)

ImagePrototipe alsin penuang sari buah otomatis ke kemasa






sumber : Balai Besar Pengembangan Mekanisasi

Pengolahan Biji Jarak Pagar

Teknologi Pengolahan Biji Jarak Menjadi Minyak Jarak (Crude Jatropha Curcas Oil, Cjco)

ImageKetersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Selain karena alasan keterbatasan minyak bumi yang terbatas, pengembangan produk minyak mentah (crude oil) dari tumbuhan seperti biji jarak, juga diarahkan pada sifat bahan bakunya yang dapat diperbaharui.

Konsep yang dikembangkan dalam perekayasaan prototipe pengolahan biji jarak ini adalah kemandirian agroindustri pedesaan. Petani diharapkan tidak sekedar menanam dan menjual biji kering, tetapi lebih jauh diharapkan kelompok tani dapat memproses biji jarak kering tersebut menjadi minyak jarak mentah (CJCO) untuk mewujudkan pengembangan Desa Mandiri Energi. Dengan demikian teknologi yang direkayasa tidak hanya secara teknis layak tetapi secara ekonomis pun harus juga layak untuk skala usaha kelompok tani. Tingkat teknologi yang digunakan diharapkan sederhana dan dapat diperbaiki sendiri oleh kelompok tani bila terjadi kerusakan. Melalui penerapan konsep kemandirian ini diharapkan nilai tambah pengolahan biji menjadi minyak dapat dinikmati oleh petani.
Mesin pengolah biji jarak hasil rekayasa terdiri dari mesin pengupas kulit buah jarak (tipe rol ganda) dan mesin pengepres (expeller, tipe screw) dan mesin penyaring yang masing-masing mempunyai kapasitas 200-300 kg/hari biji kering dengan hanya menggunakan satu motor penggerak diesel 8.5 HP. Prototipe-I telah dikembangkan dan dikerjasamakan dengan BPPT untuk perbaikan rendemen dan unjuk kerjanya. Hasil akhir yang diperoleh (prototipe II), rendemen pengepresen mencapai 27%.
Pengembangan dan penerapan teknologi ini diharapkan akan mampu mendukung program nasional pemerintah dalam menyediakan energi alternatif di tingkat pedesaan dan kesejahteraan petani. Sehingga diharapkan dengan ketersediaan teknologi ini akan dapat memicu berkembanganya kemandirian agroindustri di pedesaan, khususnya untuk daerah-daerah yang langka bahan bakar jenis fosil.

Fungsi dan Keunggulan :

mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah.
mendukung program nasional pemerintah dalam menyediakan energi alternatif di tingkat pedesaan dan kesejahteraan petani. Sehingga diharapkan dengan ketersediaan teknologi ini akan dapat memicu berkembanganya kemandirian agroindustri di pedesaan, khususnya untuk daerah-daerah yang langka bahan bakar jenis fosil.

Spesifikasi :

ImageMesin Pengupas kulit buah jarak :
Model : Rol ganda dan blower
Kapasitas : 250 kg/jam
Penggerak : Mesin diesel 8,5 HP
Sistem Transmisi : v-belt dan puli, gear
Bahan bakar : Solar
Putaran : 80 – 90 rpm
Hasil Pemrosesan : 60 – 80 % terkupas tergantung kekeringan kulit buah

Image Mesin Pengepres biji jarak :
Model : Expeller tipe screw
Kapasitas : 100 kg/jam
Penggerak : Mesin diesel 8,5 HP
Sistem Transmisi : v-belt dan puli, gear
Bahan bakar : Solar
Putaran : 40 -50 rpm

Image

Mesin Penyaring minyak kasar
Model : Saringan
Kapasitas : 100 liter/jam
Penggerak : Motor listrik 1,1 kW modifikasi menggunakan diesel engine



Image
Minyak jarak hasil proses penyaringan. Hasil Rendemen percobaan 27 % tergantung varietas.


sumber : Balai besar pengembangan mekanisasi

Analisis Biodegradability Minyak Pelumas dari Sawit

Uji performa dan analisis Biodegradability produk minyak pelumas otomotif

Uji penyimpanan pelumas yang terbuat dari minyak sawit selama 7 bulan pada kondisi ruang menunjukkan perubahan pada beberapa parameter, terutama pada nilai bilangan asam yang mengindikasikan terjadinya proses hidrolisis selama penyimpanan.
Hasil pengukuran titik nyala (flash point) dari pelumas FG-R01 dan SYNTH-P02 cukup tinggi sehingga dinilai aman dalam pemakaiannya. Temperatur pelumas mesin (motor oil) adalah sekitar 100-125oC (maks. 140 oC), sehingga pelumas disarankan memiliki titik nyala lebih tinggi dari 140 oC. Pelumas non motor oil (gear, hidrolik dll) bahkan memiliki temperatur kerja di bawah 140 oC. Sebagian besar pelumas mineral memiliki titik nyala sekitar 220oC.

Titik tuang (pour point) pelumas FG-R01 dan SYNTH-P02 sudah cukup rendah, diperkirakan tidak akan terjadi penggumpalan selama operasi (khusunya di negara tropis) baik pada mesin maupun roda gigi. Namun demikian, sebagian besar pelumas mineral/komersial memiliki titik tuang yang sangat rendah (<-30oC) sehingga dapat digunakan pada cuaca dingin. Peneliti Malaysia mengklaim memiliki formulasi base oil dari ester sawit dengan titik tuang 0 s/d 40oC (http//mpob.gov.my)
Uji korosi dengan koper/tembaga (No. 1) menunjukkan bahwa pelumas FG-R01 dan SYNTH-P02 masih di bawah batas yang ditetapkan yaitu maks. No. 3. Namun demikian selama operasi juga harus terjaga cukup rendah produksi asamnya agar tidak terlalu korosif.
Hasil uji keausan logam menunjukkan bahwa pelumas FG-R01 dan SYNTH-P02 memiliki unjuk kerja yang sama/sebanding dengan pelumas mineral. Berdasarkan hasil pengujian keausan sebelumnya pelumas sawit memiliki keausan yang lebih tinggi dibanding pelumas mineral, tetapi hasil ini diperoleh dari hasil analisa kandungan logam (besi, chrom, almunium
dll) dalam pelumas uji. Sedangkan pada pengujian ini hanya dilakukan penimbang berat roda gigi/gear sebelum dan sesudah pengujian tanpa analisa logam keausan dalam pelumas. Menurut literatur, pelumas nabati memiliki daya anti friksi dan anti aus lebih baik dari pelumas mineral. Perlu dilakukan studi yang mendalam dan representatif untuk membandingkan keduanya.
Pelumas SYNTH-P02 memiliki daya anti aus lebih baik dibandingkan FG-R01. Meskipun memiliki viskositas yang lebih encer namun memiliki daya perlindungan yang lebih baik. Untuk aplikasi pada mesin memang saat ini pelumas harus semakin encer (fuel economy, hemat BBM) tetapi memiliki sifat anti aus yang lebih baik.
Pengujian biodegradability pelumas menunjukkan bahwa dalam waktu 5 hari terjadi perombakan atau degradasi pelumas oleh mikroorganisma yang terdapat dalam air limbah tersebut. Hal ini ditandai dengan menurunnya nilai oksigen terlarut dari masing-masing 24.000 dan 8.600 ppm menjadi masing-masing 14.000 dan 2.400 ppm.



sumber : Pusat penelitian kelapa sawit

Selasa, 05 Februari 2008

Hitung-untung Produksi Bioethanol

Indonesia berpotensi sebagai produsen bioetanol terbesar di dunia. Menurut Dr Ir Arief Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3 kelompok tanaman sumber bioetanol: tanaman mengandung pati, bergula, dan serat selulosa. 'Seluruhnya ada di Indonesia,' ujarnya.

Salah satu bahan baku yang sohor digunakan di tanahair adalah molase alias tetes tebu. Limbah pabrik gula itu berkadar gula mencapai 50%. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 4 kg molase. Bahan baku lainnya adalah singkong. Tanaman itu adaptif di berbagai daerah. Itulah sebabnya singkong menjadi salah satu pilihan bahan baku. Kerabat euphorbia itu salah satu sumber pati. Rata-rata kadar pati singkong 28,5%. Untuk menghasilkan seliter bietanol perlu 6,5 kg singkong. Berikut analisis usaha produksi bioetanol dari kedua bahan baku.

Asumsi:

  1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik sendiri, bukan sewa.
  2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol 10 tahun.
  3. Umur ekonomis zeolit lokal 500 kali pemakaian setara 500 hari.
  4. Jam kerja produksi 8 jam/hari.
  5. Harga jual bioetanol berkadar 99% Rp5.500 per liter.
  6. Tingkat suku bunga Bank Indonesia saat perhitungan 8%.
  7. Kapasitas produksi 70 liter per hari.
  8. Bioetanol yang dihasilkan berkadar 99%.
Bahan Baku Singkong
singkong
Sumber: PT Panca Jaya Raharja dan B2TP BPPT, telah diolah

Dari analisis di atas dapat disimpulkan, dengan tingkat keuntungan 19%, produksi bioetanol berbahan baku singkong layak diusahakan karena lebih menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bunga Bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untun usaha produksi bioetanol kembali setelah 6 tahun 9 bulan.

Bahan Baku Molase
molase
Sumber: PT Panca Jaya Raharja dan B2TP BPPT, telah diolah

Produksi bioetanol berbahan baku molase layak diusahakan karena tingkat keuntungan mencapai 24%. Jumlah itu lebih menguntungkan dari pada menyimpan dana di bank dengan tingkat bunga Bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untuk usaha produksi bioetanol kembali setelah 3 tahun 8 bulan.

sumber : Tubus

Tenologi Produksi Biodiesel






Terdapat beberapa teknologi proses biodiesel di pasaran dunia. Teknologi proses yang digunakan pada kajian ini dikembangkan oleh perusahaan LURGI di Jerman yang disebut Proses Pengolahan langsung Transesterifikasi. Asumsi penggunaan bahan baku adalah dari minyak sawit (CPO) atau turunnya seperti RPO (Refind Palm Oil), CPS (Crude Palm Stearin), RPS (Refind Palm Stearin). Untuk memudahkan CPO termasuk CPS dan RPO termasuk RPS. Biodiesel kepala sawit atau palm oil metilester berarti adalah produk transesterifikasi yang berasal dari CPO atau RPO.

Kelapa sawit dalam bentuk minyak mentah mengandung 93% minyak biodiesel, 4% Asam lemak bebas atau FFA (Free Fatty Acid) dan sejumlah kecil campuran lainnya seperti impurities atau kotoran dan gum. Bahan baku CPO harus dicampur dengan senyawa asam phospat untuk menghilangkan kotoran seperti gum dan logam dll. Kemudian dibersihkan dengan menggunakan zat bleaching earth diikuti dengan filtralisasi. Minyak yang telah dihilangkan asamnya adalah RPO (kandungan asam lemak bebas <>

Proses transesterifikasi merupakan suatu proses kimiawi dari trigliserida pada RPO dengan metanol dengan menggunakan sodium methylate sebagai katalis untuk menghasilkan biodiesel kelapa sawit (POME) dan glycerin. RPO setelah dipanaskan pada temperatur 750C dimana methanol dan katalis dimasukan dengan 2 alat pencampur, setter yang dilengkapi dengan agiator. Bersamaan dengan reaksi kimia yang berlangsung pada mixer, setlers memisahkan produk yang tidak larut, Biodiesel kelapa sawit (POME) dan gliserin. Larutan POME atau biodiesel kemudian dibersihkan dengan air untuk menghilangkan sisa-sisa methanol, gliserin dan katalis. Minyak biodiesel POME yang masih mengandung metanol kemudian dialirkan dengan uap untuk menghasilkan biodiesel murni, kemudian dipompa ke tangki penyimpanan untuk selanjutnya siap dikirim ke tempat tujuan.


sumber : kreatif energi Indonesia

Pengertian Biodiesel






Biodiesel merupakan suatu nama dari Alkyl Ester atau rantai panjang asam lemak yang berasal dari minyak nabati maupun lemak hewan. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pada mesin yang menggunakan diesel sebagai bahan bakarnya tanpa memerlukan modifikasi mesin. Biodiesel tidak mengandung petroleum diesel atau solar


Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.

Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati, sedangkan petroleum diesel adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. Pencampuran 20 % biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata. Produk ini di Amerika dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak digunakan untuk bahan bakar bus.

Energi yang dihasilkan oleh biodiesel relatif tidak berbeda dengan petroleum diesel (128.000 BTU vs 130.000 BTU), sehingga engine torque dan tenaga kuda yang dihasilkan juga sama. Walaupun kandungan kalori biodiesel serupa dengan petroleum diesel, tetapi karena biodiesel mengandung oksigen, maka flash pointnya lebih tinggi sehingga tidak mudah terbakar. Biodiesel juga tidak menghasilkan uap yang membahayakan pada suhu kamar, maka biodiesel lebih aman daripada petroleum diesel dalam penyimpanan dan penggunaannya. Di samping itu, biodiesel tidak mengandung sulfur dan senyawa bensen yang karsinogenik, sehingga biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dibandingkan dengan petroleum diesel.

Penggunaan biodiesel juga dapat mengurangi emisi karbon monoksida, hidrokarbon total, partikel, dan sulfur dioksida. Emisi nitrous oxide juga dapat dikurangi dengan penambahan konverter katalitik. Kelebihan lain dari segi lingkungan adalah tingkat toksisitasnya yang 10 kali lebih rendah dibandingkan dengan garam dapur dan tingkat biodegradabilitinya sama dengan glukosa, sehingga sangat cocok digunakan di perairan untuk bahan bakar kapal/motor. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya petroleum diesel karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon.

Untuk penggunaan biodiesel pada dasarnya tidak perlu modifikasi pada mesin diesel, bahkan biodiesel mempunyai efek pembersihan terhadap tangki bahan bakar, injektor dan selang.

Biodiesel mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah mudah digunakan, limbahnya bersifat ramah lingkungan (biodegradable), tidak beracun, bebas dari logam berat sulfur dan senyawa aromatik serta mempunyai nilai flash point (titik nyala) yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga lebih aman jika disimpan dan digunakan.Secara teknis biodiesel yang berasal dari minyak nabati dikenal sebagai VOME (Vegetable Oil Metil Ester) dan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui karena umumnya dapat diekstrak dari berbagai hasil produk pertanian seperti minyak kacang kedelai, minyak kelapa, minyak bunga matahari maupun minyak sawit.


Kesimpulan
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif masa depan yang ramah lingkungan dan bersifat renewable
Pengembangan biodiesel dalam negeri terutama ditujukan untuk mengatasi polusi yang diakibatkan oleh emisi yang dikeluarkan oleh bahan bakar petroleum/bensin.
Terlaksananya pengembangan biodiesel sangat ditentukan oleh komitmen dan dukungan pemerintah, melalui kewenangannya dalam regulasi
Pengurangan pemborosan devisa negara karena pengurangan impor minyak mentah.
Menyediakan lapangan kerja baru
Meningkatkan permintaan dalam negeri untuk CPO, perbaikan harga CPO, yang pada akhirnya diharapkan berdampak pada perbaikan pendapatan petani kelapa sawit
Penurunan anggaran pemerintah untuk subsidi kesehatan golongan masyarakat ekonomi lemah (mayoritas korban emisi tinggi petrodiesel)

sumber : kreatif energi Indonesia

Bioethanol dari Singkong

Tujuh tahun terakhir Zaenai Arifin rutin mengolah 1,5 ton singkong segar per hari menjadi keripik. Hasilnya 600kg keripik iajuaike beberapa daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Lampung. Selain keripik, singkong juga sering diolah menjadi tapai. Begitulah secara turun-temurun anggota famili Euphorbiaceae itu dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil. Kendaraan itu melaju dengan bahan bakar singkong

Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.

Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari.

1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku

3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100"C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.

4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati

5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6 Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH 4,5—5,5.

7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol

8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.

9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

10 Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek


Tanggal Tayang : 12-1-2007
Sumber : Trubus

Sponsor News


Jobs Online- Informasi Kerja Online
CO.CC:Free Domain

PageRank

eXTReMe Tracker