Google
 
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2008

Lonsor di Cawas Klaten

Batu Sebesar Rumah Hampir Tewaskan 40 Orang
ilustrasi

Longsor kembali terjadi di Pegunungan Seribu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebuah batu sebesar rumah penduduk hampir saja menggilas tujuh rumah di Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang dilalui batu besar itu ketika menggelundung ke arah bawah, Kamis (10/4) sekitar pukul 21.30.

Tidak ada rumah yang rusak atau korban jiwa, tetapi sejumlah pohon dan kebun warga yang dilalui batu besar itu ketika menggelundung ke arah lereng utara Pegunungan Seribu rusak. Luncuran batu besar itu akhirnya berhenti setelah tertahan deretan pohon bambu, jati, dan mahoni sebelum menimpa rumah-rumah penduduk yang dihuni 40 jiwa.

Hingga Jumat pagi ini, batu sebesar rumah itu masih menggantung tertahan pepohonan di ketinggian 40-50 meter di atas perumhan warga. Hal ini menyebabkan warga sangat khawatir kalau batu itu akhirnya tak tertahan dan menggelundung ke bawah lagi.

Menurut sejumlah warga, luncuran batu besar itu menimbulkan suara bergemuruh, sehingga warga pun panik. Saat kejadian, cuaca relatif cerah meski pada sore hari sempat turun hujan gerimis sekitar 30 menit. Angin juga berembus tenang.

Mendengar suara gemuruh seperti itu, warga RT 06/RW 3 Dusun Burikan itu pun berlarian tunggang langgang dan selanjutnya mengungsi di musholla atau rumah kerabat yang dirasa lebih aman.

Kepala Desa Burikan Paimin menuturkan, dari rumahnya yang berjarak sekitar 400 meter, ia mendengar suara gemuruh dengan jelas. "Saya juga merasakan getaran, tapi kecil. Awalnya kami kira ada gempa bumi. Suasananya menakutkan, sampai mau lari saja tidak bisa," ungkapnya.

Lokasi longsor ini berjarak satu kilometer di sebelah timur rekahan di Bukit Putih. Menurut Paimin, akhir-akhir ini sudah jarang terjadi longsoran batu-batu. Batu-batunya sudah habis longsor semua saat musim hujan kemarin. "Yang tersisa yang di dekat puncak, seperti batu yang baru longsor ini. Di sekitar lokasi longsoran ini masih banyak batu-batu besar lainnya yang berpotensi longsor," jelasnya.

Sejumlah fenomena alam berupa rekahan bukit kapur di Pegunungan Seribu muncul pascagempa bumi besar di Bantul dan DIY pada bulan Mei 2006. Kerusakan yang ditimbulkannya sangat luas, sampai ke Wonogiri, Klaten, Gunung Kidul, hingga sejumlah di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ratusan ribu rumah rusak, sementara korban jiwa lebih dari 5.000 orang.



sumber : kompas.com (sri rejeki)


EKI

Selasa, 08 April 2008

Konversi Sampah ke Energi Listrik Ditemukan

Mimpi mengubah sampah dan limbah menjadi aliran listrik kian mendekati kenyataan, terlebih ketika para peneliti dari Universitas Minnesota Amerika Serikat menemukan kunci konversi sampah ke listrik.

Baru-baru ini hasil penelitian tim Universitas Minnesota mendapati bahwa organisme bakteri yang mampu menghasilkan listrik bisa ditingkatkan produksi energinya dengan pasokan riboflavin - yang lazimnya dikenal dengan vitamin B-2.

Bakteri penghasil listrik itu bernama Shewanella, seringnya didapati di air dan tanah.

“Bakteri ini bisa mengubah asam susu (lactic acid) menjadi listrik,” kata Daniel Bond dan Jeffrey Gralnick dari Jurusan Mikrobiologi Institut Bio-Teknologi Universitas Minnesota yang memimpin penelitian.

"Ini sangat membahagiakan buat kami, karena menuntaskan teka-teki biologi yang sangat fundamental," kata Bond.

Ia menjelaskan, "Para pakar selama sudah bertahun-tahun mengetahui bahwa Shewanella bisa menghasilkan listrik. Dan sekarang kami tahu bagaimana bakteri ini melakukannya."

Penemuan ini juga berarti bakteri Shewanella bisa memproduksi energi lebih banyak lagi bisa riboflavin ditingkatkan jumlahnya. Selain itu penelitian tim Universitas Minnesota ini juga membuka peluang bagi berbagai inovasi di bidang energi terbarukan dan pembersihan lingkungan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 3 Maret 2008.

Tim penelitian yang lintas-disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa bakteri tumbuh di elektroda yang secara alamiah menghasilkan riboflavin.

Karena riboflavin sanggup membawa elektron dari sel-sel hidup ke elektroda, maka angka produksi listrik pun bisa ditingkatkan menjadi 370 persen saat riboflavin ditambah jumlahnya.

Penambahan bahan bakar mikroba ini menggunakan bakteri serupa yang bisa menghasilkan listrik untuk membersihkan limbah air.

"Bakteri bisa membantu kita menurunkan biaya pabrik pengelolaan limbah air," kata Bond.

Tapi untuk aplikasi yang lebih ambisius seperti listrik untuk transportasi rumah atau bisnis, masih kata Bond, dibutuhkan temuan ilmu biologi yang lebih mutahir dan pasokan bahan bakar sel yang lebih murah.

Lalu timbul pertanyaan, "Bagaimana bakteri ini bisa menghasilkan listrik?"

Secara alamiah, bakteri seperti Shewanella butuh mendapatkan dan melarutkan benda-benda logam seperti besi. Dengan kemampuan mengarahkan secara langsung elektron ke logam, membuat bakteri ini bisa mengubah kadar kimia dan tingkat ketersediaannya.

"Bakteri sudah sejak miliar tahun lalu mengubah kadar kimia di lingkungan hidup kita," kata Gralnick.

"Kemampuan mereka membuat besi menjadi zat yang terlarutkan adalah kunci dari proses siklus logam di lingkungan dan memainkan peran yang sangat penting buat kehidupan di Bumi," tambahnya.

Proses ini bisa berlaku terbalik untuk menghindari logam terkena kerosi, teruma buat logam-logam di kapal laut.


sumber : media Indonesia

Selasa, 11 Maret 2008

Kelapa Sawit, Serba Guna, Namun Serba Memusingkan

Oleh : Yanti Mualim

Palmolievruchten240.jpgBaru-baru ini Abetnego Tarigan dari organisasi Sawitwatch berada di Belanda untuk meluncurkan laporan mengenai berbagai sisi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Laporan itu disusun bersama Milieudefensie, sebuah lsm Belanda yang tergabung dalam Friends of the Earth dan sebuah lsm konservasi alam Swedia. Laporan itu berjudul The Kalimantan Border Oil Palm Mega-Project. Apa inti laporan itu?

Energi alternatif
Masalah kelapa sawit, ini di Eropa cukup ramai. Semenjak beberapa tahun terakhir kelapa sawit diminati, karena menjawab kebutuhan di Eropa dalam mencari energi alternatif. Kelapa sawit adalah bahan bakar biologis dan bukan bahan bakar fossil, yang pada penggunaannya menghasilkan CO2. Kelapa sawit juga dimanfaatkan dalam usaha Uni Eropa mengurangi emisi CO2, yang merupakan salah satu gas penyebab dampak rumah kaca. Selain itu kelapa sawit juga bahan baku untuk berbagai penganan dan untuk pembuatan sabun.

Top-down
Menurut Abetnego Tarigan pemerintah Indonesia sebaiknya menghentikan proyek-proyek perkebunan kelapa sawit. Alasannya banyak, 'tapi', demikian Abetnego Tarigan, 'salah satu yang penting adalah bahwa keputusan diambil 'top-down', dari atas ke bawah. Pemerintah pusat lebih banyak berperan daripada masyarakat dan pemerintah lokal. Di samping itu perkebunan kelapa sawit saat ini di Indonesia, 6 juta hektar yang sudah ada, belum optimal. Mengapa mengadakan ekspansi, mengapa meningkatkan jumlah, dan bukan meningkatkan kualitas? Selain itu banyak kebun petani yang juga turut di dalam perkebunan kelapa sawit membutuhkan peremajaan tanaman, tapi sampai sekarang belum jelas skema apa yang akan diterapkan'.
Diperkirakan saat ini ada 400.000 hektar kebun petani yang membutuhkan peremajaan. Oleh karena itu tidak masuk akal mengapa pemerintah ingin meluaskan perkebunan kelapa sawit.

Jangan mengulang pengalaman pahit

Indonesia sudah punya pengalaman pahit dengan mega-project, sejuta hektar lahan gambut, masih segar dalam ingatan kita. Hutan yang dibuka untuk dijadikan lahan pertanian kini meninggalkan luka besar di Kalimantan Tengah. Akhirnya membutuhkan banyak tenaga, biaya dan waktu untuk memperbaiki kesalahan besar yang dibuat di masa lalu. Sementara itu kerusakan lingkungan yang diakibatkannya sudah banyak. Jangan sampai kesalahan semacam itu terulang lagi, demikian inti imbauan lsm-lsm lingkungan hidup baik di Indonesia maupun di Eropa.

Palmoliedrama240.jpg

Mati karena kehilangan habitat, demi perkebunan kelapa sawit

Tercengang atas kebijakan Indonesia
Kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh kegiatan perkebunan kelapa sawit disadari oleh kalangan lsm lingkungan hidup di Eropa. Milieudefensie, lsm lingkungan Belanda sudah sementara lama berkampanye untuk menyadarkan masyarakat di Belanda akan dampak negatif yang diakibatkan oleh perkebunan-perkebunan kelapa sawit.
Di samping 6 juga hektar perkebunan kelapa sawit yang sudah ada pemerintah Indonesia menyetujui peluasan perkebunan kelapa sawit dengan 2 juta hektar lagi. Hal ini mencengangkan banyak pihak.

Bersikap kritis terhadap kelapa sawit
Kelapa sawit adalah bahan baku yang serba guna. Bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar biologis tapi juga bisa dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis penganan dan kueh-kueh. Bahkan lebih dari itu kelapa sawit adalah juga bahan baku untuk pembuatan sabun. Perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional Belanda dan Eropa diimbau agar bersikap kritis dalam memanfaatkan kelapa sawit. Dan konsumen diimbau agar bersikap kritis dalam membeli produk-produk yang menggunakan minyak kelapa sawit.


Jumat, 01 Februari 2008

Jakarta dikepung Banjir

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan sejumlah wilayah di Jakarta berpotensi banjir tinggi pada Januari 2008.

Menurut Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, yang mengutip keterangan dari BMG, Senin (17/12), daerah yang mungkin dilanda banjir tinggi antara lain Cengkareng (Jakarta Barat), Cipayung (Jakarta Timur), Ciracas (Jakarta Timur), Grogol Petamburan (Jakarta Barat), dan Kalideres (Jakarta Barat).

Wilayah lainnya adalah Kebayoran Baru (Jakarta Selatan), Kramatjati (Jakarta Timur), Kampung Makassar (Jakarta Timur), Mampang Prapatan (Jakarta Selatan), Pasar Minggu (Jakarta Selatan) dan Tebet (Jakarta Selatan).

Sementara itu wilayah yang berpotensi mengalami banjir menengah di bulan Desember ini antara lain Jatinegara (Jakarta Timur), Kalideres (Jakarta Barat), Kelapa Gading (Jakarta Utara), Kemayoran (Jakarta Pusat), Koja (Jakarta Utara), Menteng (Jakarta Pusat), Pademangan (Jakarta Utara), Penjaringan (Jakarta Utara), Sawah Besar (Jakarta Barat), Senen (Jakarta Pusat), Tanah Abang (Jakarta Pusat), dan Tanjung Priok (Jakarta Utara).

Sementara untuk Februari, potensi banjir mulai menyusut. Wilayah-wilyah yang pada Januari berpotensi banjir tinggi berkurang, kecuali Kramatjati di Jakarta Timur dan Tebet di Jakarta Selatan.

Sedangkan wilayah yang berpotensi banjir menengah antara lain Cengkareng (Jakarta Barat), Cipayung (Jakarta Timur), Ciracas (Jakarta Timur), Grogol Petamburan (Jakarta Barat), Jatinegara (Jakarta Timur), Kalideres (Jakarta Barat), Kebayoran Baru (Jakarta Selatan), Kelapa Gading (Jakarta Urata), Kemayoran (Jakarta Pusat), dan Koja (Jakarta Utara).

Wilayah lainnya adalah Kramatjati (Jakarta Timur), Kampung Makassar (Jakarta Timur), Mampang Prapatan (Jakarta Selatan), Menteng (Jakarta Pusat), Pademangan (Jakarta Utara), Pasar Minggu (Jakarta Selatan), Penjaringan (Jakarta Utara), Sawah Besar (Jakarta Barat), Senen (Jakarta Pusat), Tanah Abang (Jakarta Pusat) dan Tanjung Priok (Jakarta Utara).

sumber : kompas


Kamis, 03 Januari 2008

Kekeringan,kebakaran dan kerusakan Sumber Daya Alam

Oleh Feno Widodo*

Setiap kali memasuki musim kemarau, asap dari kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia selalu menimbulkan dampak yang merugikan. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tak luput terkena getahnya. Sumatera dan Kalimantan adalah wilayah yang selalu menjadi langganan kebakaran setiap kali musim kemarau. Gangguan yang ditimbulkan oleh adanya asap kebakaran yang paling ringan adalah mata perih, disusul kemudian gangguan pernapasan. Dampak yang paling membahayakan adalah tertutupnya jalan darat dan transportasi pesawat yang dapat menimbulkan kecelakaan, yang sudah tentu akan memakan korban jiwa.

Kebakaran hutan akibat kondisi musim kemarau memungkinkan lebih banyak wilayah hutan dan lahan yang terbakar. Sebagian penduduk yang tinggal di kawasan hutan juga acap kali membakar semak belukar sebagai salah satu cara pembukaan lahan pertanian mereka. Selain cepat dan mudah, cara ini pembukaan lahan dengan cara dibakar ternyata memiliki kelemahan yaitu hilangnya unsur hara yang penting bagi tanaman. Namun disadari atau tidak cara ini sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Penyebab lain adanya kebakaran adalah akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan, terutama para petani di daerah yang senang bekerja sambil merokok.

Fenomena alam yang terjadi di Indonesia merupakan ciri khas tersendiri. Namun, fenomena yang muncul setiap tahunnya tidak diimbangi dengan upaya pencegahan yang menyeluruh. Kebakaran adalah salah satu contoh nyata bagaimana buruknya pengelolaan hutan di Indonesia. Sebagian besar hutan kita ternyata dalam kondisi memprihatinkan, gundul dan yang tersisa hanya onggokan batang pohon sisa penebangan. Sebagaimana kita ketahui, hutan merupakan salah satu sumber penyedia air yang sangat potensial. Keberadaan sumber-sumber air dalam tanah akan tetap terjaga apabila hutan sebagai penyangganya tetap terpelihara. Jika hutan yang dijadikan penyangganya habis dibabat, maka yang muncul adalah kekeringan. Kekeringan inilah yang menjadi pemicu mudahnya kawasan hutan terbakar. Hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 menunjukkan 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, dari jumlah tersebut 59,62 juta hektar di antaranya adalah hutan (Kompas, 24 Juni 2004).

Hilangnya hutan sebagai penyangga sumber air, menyebabkan wilayah yang mengandalkan air dari hutan mengalami kekurangan air. Tak pelak hal ini, memungkinkan terjadinya krisis air yang dapat berujung pada kematian makhluk hidup (kasus kekeringan di Sudan yang telah memakan korban jiwa). Meskipun di Indonesia belum terjadi, namun tidak menutup kemungkinan jika pengelolaan hutan tetap tidak berubah dan kurang mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, nampaknya bencana itu mulai mengintai kita sekarang. Hal ini diindikasikan dengan semakin berkurangnya luasan hutan setiap tahunnya, ilegal logging dan penjarahan dilakukan oleh oknum-oknum pejabat pemerintahan daerah dan pusat. Ratusan truk yang keluar masuk wilayah hutan di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia, ditengarai semakin memperkuat dugaan bahwa memang telah terjadi perusakan hutan di Indonesia secara sistematis.

Ketidakpedulian pemerintah dalam mengelola hutan semakin jelas manakala dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (perpu) Nomor 1 Tahun 2004 yang mengizinkan pertambangan dilanjutkan dikawasan hutan lindung. Padahal,Tap MPR Nomor IX Tahun 2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan SDA memberi gambaran setiap kebijakan publik produk pemerintah yang tidak mendukung keberlanjutan lingkungan harus disesuaikan. Dua produk pemerintah yang berbentuk undang-undang tersebut justru bertabrakan, di satu sisi ingin agar pengelolaan lingkungan dijalankan sebagaimana mestinya, di sisi lain pengeksploitasian SDA diperbolehkan bahkan dalam kawasan hutan lindung. Benar-benar sebuah peraturan yang dibuat untuk membingungkan masyarakat.

Selama ini SDA kita termasuk hutan dipandang hanya sebagai komoditas yang mampu memberikan nilai bagi perekonomian nasional. Maka yang terjadi adalah pengurasan kekayaan hutan sebesar-besarnya, baik kayunya, rotan, damar, dan kegiatan penambangan bila terdapat sumber minyak atau gas bumi. Selanjutnya yang terjadi adalah kerusakan di mana-mana. Kalau sudah seperti ini ujung-ujungnya yang menjadi korbannya adalah rakyat kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya pada kawasan hutan. Eksploitasi seperti ini tidak hanya pada sektor kehutanan saja melainkan juga SDA lain yang cukup strategis yaitu air. Air sebagai SDA yang mempunyai peran strategis, sekarang mulai dikembangkan menjadi komoditas yang layak untuk dikomersialkan. Pengurasan sumber-sumber mata air untuk air minum isi kemasan adalah contoh nyata yang kita temui. Pada awal pemunculan, perusahaan yang bergerak dalam air minum kemasan bisa dihitung dengan jari. Belakangan, perusahaan-perusahaan baru tumbuh dengan pesatnya. Bahkan hampir dapat dipastikan di setiap daerah yang mempunyai sumber mata air berkualitas sudah dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan.

Musim kemarau yang berlangsung sekarang mulai menimbulkan dampak yang cukup berat, mulai dari cuaca yang panas, kelangkaan air, menurunnya produksi pertanian, kelangkaan sumber hijauan ternak, dan tidak beroperasinya pembangkit listri yang menjadikan air sebagai penggerak dinamo. Tidak lama lagi masyarakat kita akan berduyun-duyun berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan air, menggali sungai-sungai dan rawa demi mendapatkan setetes air. Pengalaman yang konon merupakan guru terbaik bagi kita ternyata tidak memberikan pelajaran yang cukup atas musibah yang terus menerus terjadi setiap tahunnya. Sebelum semuanya terlambat, ada baiknya tiga pilar penentu kebijakan yaitu presiden, DPR dan MPR merumuskan kembali agenda kebijakan tentang pengelolaan hutan, lingkungan, dan sumber –sumber air. Kita harus belajar banyak dari para suku anak dalam di Kawasan Hutan Lindung di Kerinci Jambi, bagaimana mereka mampu memelihara kawasan hutan dengan cara mereka sendiri. Dan masih banyak lagi saudara-saudara mereka yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.

Slogan yang sering kita dengar, bahwa negara ini gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo harus kita wariskan pada anak cucu. Jangan sampai generasi pewaris penerus bangsa ini justru dibebani dengan utang, menjadi buruh di negeri sendiri, membeli SDA alam mereka sendiri akibat dikuasai asing, dan menjadi negara yang terus bergantung pada bantuan asing. Sudah saatnyalah kemandirian bangsa ini dibangun dengan nilai-nilai ajaran yang bersumber dari kebenaran Sang Pencipta, karena hakekatnya bumi dan isinya adalah milik-Nya, kita hanya sebagai pemakai dan wajib untuk merawat dan melestarikannya.

*Penulis adalah anak transmigrasi yang ada di Pematang Panggang

Sponsor News


Jobs Online- Informasi Kerja Online
CO.CC:Free Domain

PageRank

eXTReMe Tracker